Tampilkan postingan dengan label Tulisan teori organisasi umum 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan teori organisasi umum 2. Tampilkan semua postingan

Tantangan baru dunia kepustakawanan: Menuju masa depan yang berubah

Perpustakaan, pustakawan dan kemajuan jaman

Pustakawan sekarang ini boleh mengatakan bahwa pekerjaan mereka tidak sekedar menata buku tetapi memberikan akses informasi kepada masyarakat dalam berbagai format. Karena pustakawan—seperti halnya orang lain—yakin bahwa dunia perdagangan, komunikasi dan informasi sudah beralih ke format digital, mereka berjuang memberikan akses internet—untuk mencegah agar tidak dianggap menjadi masyarakat kelas-dua dalam dunia digital.

Suatu keanehan timbul dalam perjalanan menuju perpustakaan digital masa mendatang. Bukannya menjadi penjaga kunci database pengetahuan universal, pustakawan semakin mendapati diri mereka berada dalam peran yang berlebihan dan tidak diduga-duga sebelumnya: mereka menjadi penyedia layanan dukungan teknologi yang ada pada urutan bawah

Seharusnya memang tidak demikian. Perpustakaan masa kini menyediakan berbagai media dan kegiatan sosiokultural—menjadi “blended libraries” menurut Kathleen Imhoff, asisten direktur Broward County Library of Fort Lauderdale. Florida. Ada kecenderungan bahwa perpustakaan mulai menyembunyikan bukunya di belakang dan menempatkan komputer di bagian depan agar sense of atau rasa teknologi muncul dalam dunia perpustakaan. Ada juga perpustakaan yang saat ini lebih banyak menyediakan anggaran untuk koleksi digital dari pada koleksi cetak. Tidak hanya itu perpustakaan juga berlomba-lomba menyediakan layanan yang semakin bertambah seperti layanan akses

internet, layanan multimedia dan sebagainya. Namun demikian, masih ada juga perpustakaan-perpustakaan yang menyediakan buku-buku yang serba sedikit dan dengan fasilitas yang sangat minimal pula. Namun kedua macam perpustakaan tersebut sama-sama lakunya, hanya pasarnya berbeda.

Apa yang menarik dari fenomena tersebut adalah: terjadinya digital divide. Ada gap teknologi antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya. Demikian pula di sisi pemakainya. Digital divide atau perbedaan kemampuan pemanfaatan teknologi informasi terjadi pada saat ini antara satu orang dengan orang lain tanpa batasan usia maupun profesi..

Setiap ada seminar atau pelatihan bertemakan perpustakaan digital, sering timbul keluhan dari peserta bahwa mereka tidak memiliki akses terhadap teknologi informasi atau mereka tidak memiliki fasilitas teknologi informasi tersebut. Hal ini menggambarkan bahwa ada gap pula di antara para pemikir dan pengembang perpustakaan bahwa di antara para pustakawan sendiri juga terjadi gap kemampuan teknologi informasi.

Gambaran yang menarik dan perlu dicermati adalah adanya beberapa pustakawan yang kemudian menyikapi perkembangan teknologi informasi ini sebagai suatu lahan baru dalam pengembangan perpustakaan. Ada pustakawan yang mengembangkan software perpustakaan yang sudah ada dan kemudian dipasarkan ke perpustakaan; ada pustakawan yang membuat software dan memasarkan kepada perpustakaan. Ada pula yang melihat teknologi informasi sebagai suatu hal yang HARUS dimiliki untuk mengubah image perpustakaan. Tidak kalah penting juga untuk dicermati oleh para pengajar bidang ilmu perpustakaan adalah munculnya perpustakaan digital. Para pustakawan kadang-kadang tidak dapat membedakan antara automasi perpustakaan dengan perpustakaan digital sehingga automasi sering diidentikkan dengan perpustakaan digital. Tugas para pengajar bidang ilmu perpustakaan adalah meluruskan kembali peran pustakawan sebagai penjaga informasi dan ilmu pengetahuan. Demikian halnya para mahasiswa di bidang ilmu perpustakan perlu mencermati kembali perkembangan-perkembangan yang terjadi saat ini dan mgenevaluasi diri dimana posisi diri sendiri tersebut.

Barangkali akan sangat penting bagi para akademisi di kampus untuk memikirkan kembali peran pustakawan dalam bidangnya dan meningkatkan image perpustakaan sehingga akan lebih banyak orang memanfaatkan perpustakaan.

Ada beberapa tantangan dalam dunia kepustakawanan yang saat ini muncul. Tantangan tersebut dapat memacu maupun menghambat perpustakaan di Negara ita:

Tantangan pertama: Web 2.0

Saat ini pemanfaatan internet telah sangat banyak. Bahkan dalam suatu survey, terlihat anak-anak sekarang akan memprioritaskan internet sebagai alat Bantu dalam menyelesaikan tugas-tugas sekola ataupun perkuliahannya. Dengan kata lain, internet telah menjadi fasilitas utama penunjang pendidikan dan mengesampingkan adanya perpustakaan. Fenomena ini juga semakin terlihat di Indonesia dimana semakin bangak anak-anak yang menggunakan internet sebagai alat Bantu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah.

Sementara itu, internet pun juga terus berkembang dan saat ini masyarakat telah banyak memanfaatkan web 2.0 sebagai suatu media untuk berkomunikasi dan berbagi pengalaman dan cerita, berbagi gambar, berbagi audio dan sebagainya*.

Sebagian perpustakaan juga telah mulai menerapkan web 2.0 agar fasilitas dan informasi mereka dapat dengan mudah diketahui oleh para penggunanya. Web 2.0 merupakan pengembangan internet sebagai media untuk bersosialisasi dengan sesame serta untuk berbagi. Dalam kaitan dengan perpustakaan, web 2.0 dapat digunakan misalnya untuk lebih menjelaskan tentang isi katalog. Dengan berbasis web 2.0 maka katalog yang dulunya hanya berisi informasi serba sedikit tentang sebuah buku, kini informasinya jauh lebih bermanfaat dari sebelumnya, karena katalog ini dilengkapi dengan daftar isi buku, review dan lain sebagainya; bahkan orang yang pernah membaca buku tersebut dapat pula menambahkan informasi tentang buku tersebut.

walaupun saat ini para pustakawan Indonesia masih berbicara tentang perpustakaan digital** dengan berbagai seluk beluknya dan semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama akan pula masuk dalam kancah web 2.0 dan library 2.0. Dan tentu saja masih ada berbagai kemajuan web 2.0 yang dapat diterapkan di perpustakaan.

Untuk dapat maju dan sejajar dengan para pustakawan di negara lain, kita harus berani tampil dalam dunia kepustakawanan yang berwawasan multidisiplin dan multi-skills.

Tantangan kedua: peran-peran baru kepustakawanan

Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertemu dengan Jeffrey Trzeciak, kepala Perpustakaan McMaster University. Saya bertemu beliau dalam suatu forum di China.*** Beliau mengatakan telah mengangkat 7 pustakawan baru yaitu (1) gaming librarian, (2) digital strategist, (3) digital technologist, (4) e-resources librarian, (5) archivist librarian, (6) marketing and communication librarian, (7) teaching and learning librarian. Ketujuh posisi tersebut dijabat oleh para pustakawan dan berlatar belakang pustakawan juga. Bagaimana dengan kita? Beranikah kita merancang peran-peran baru dalam kepustakawanan? Ataukah kita akan tetap terbelenggu dengan rutinitas sesuai yang tertulis pada jabatan fungsional pustakawan?

Tantangan ketiga: masyarakat yang alliterate

Tantangan ketiga merupakan tantangan klasik yang terutama kita hadapi dalam dunia sehari-hari. Walaupun selalu saja banyak perpustakaan mengatakan bahwa perpustakaan mereka selalu ramai dikunjungi oleh para pemakainya, namun perlu ditelusuri lebih lanjut, berapa persen dari masyarakat tersebut yang telah memanfaatkan perpustakaan. Angka statistic yang besar tidak akan ada artinya bila pembaginya sangat besar. Pengembangan minat baca memang harus dilakukan dari kecil dan jangan sampai terputus di tengah jalan. Untuk itulah kita perlu memikirkan juga para pustakawan yang bekerja di sekolah-sekolah (SD, SMP, dan SMA) agar perjuangan mereka bisa lebih diargai dan mendapatkan apresiasi yang lebih baik lagi. Usia sekolah merupakan critical ages untuk mengembangkan minat baca, sehingga pustakawan harus mendapatkan dukungan dalam rangka meningkatkan minat baca tersebut. UNESCO telah

mengeluarkan berbagai bacaan tentang literasi yang sangat baik untuk dipelajari oleh para pustakawan.****

Tantangan keempat: membangun pustakawan yang komunikatif dan berpengetahuan

Tantangan ini ada di dunia kampus dan setelahnya. Para pengajar dan pembelajar akan sangat baik kalau bisa mempertimbangkan para calon pustakawan tersebut tidak hanya memiliki ketrampilan dalam bidangnya saja, tetapi juga mampu berbicara pada forum-forum yang mungkin berawal dari kampus dan kemudian masuk ke tingkat lokal, nasional dan internasional. Sasya merasakan betapa sedikitnya pustakawan kita yang berperan serta dalam kancah internasional. Dua kali saya mempresentasikan makalah di konferensi perpustakaan internasional yang diselenggarakan di Malaysia, tetapi tak satu pun pustakawan Indonesia mengikutinya. Juga di forum IFLA, misalnya, lebih berperan sebagai peserta dan itupun didominasi oleh Perpustakaan Nasional, sedangkan presenter dari Indonesia hanya satu.orang saja. Pada pertemuan kongres internasional ALA dua bulan lalu beberapa pustakawan ramai ramai menulis satu makalah yang lolos karena penulis utamanya adalah orang Amerika sendiri.

Penutup

Singkatnya, para pustakawan saat ini dihadapkan pada suatu wacana digital yang mana pustakawan tidak boleh terjebak sebagai seorang ahli atau teknisi dalam dunia informatika. Pustakawan adalah pustakawan—hanya saja saat ini memiliki peran yang lebih besar karena adanya kemajuan dalam teknologi informasi.

Selain itu, tantangan-tantangan baru seperti hadirnya web 2.0 yang diikuti dengan library 2.0 serta tantangan lain: peran baru pustakawan, aliterasi di masyarakat, dan pustakawan yang harus komunikatif dan sejajar dengan profesi lainnya haruslah menjadi tantangan yang perlu direspon secara positif oleh para pustakawan di masa mendatang.

Selamat mengikuti pendidikan kepustakawanan dan tunjukkan diri kita sebagai pustakawan yang berani tampil beda.

Reference notes:

* Pattern, Dave. 2006. Introduction to Web 2.0 and Library 2.0: The Evolutionary

Revolution? http: //www.daveyp.com/Liverpool (22/6/2006)

** Singh, Sukhdev. 2003. Digital Library: Definition to Implementation. Lecture

delivered at Ranganathan Research Circle, New Delhi, India, 26 July 2003.

*** Trzeciak, Jeffrey. 2008. Exponential Change in Traditional Organizations.

Proceeding of Virtual and Physical Libraries in the 21st Century: Challenges

For Library Leaders. Shantou University, Shantou China, 18-22 April 2008.

****Horton, Forest W. Understanding Information Literacy: A Primer. Information

for All Programme, Communication and Information Sector. Paris: UNESCO,

2007.

http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/pusta/priyanto_UIN.pdf

Sinyal Alquran tentang Bintang Runtuh di Pusat Galaksi

Ketika para ilmuwan mengamati Stellar Collapse di Galactic Center, kita mungkin menemukan sinyal Quran yang luar biasa di dalam ayat,

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى

“Demi bintang ketika terbenam.” (QS An-Najm [53]: 1)

Ilmuwan Astronomi dan galaksi mulai memeriksa informasi baru yang berasal dari pusat galaksi yang berisi planet kita. Informasi ini merupakan data primer yang selanjutnya dapat mengungkapkan inti galaksi yang masif ini. Para ilmuwan juga memulai menganalisis data yang menarik ini diperoleh bentuk pengamatan berlanjut dan diobvervasi dengan salah satu teleskop terbesar di dunia, Gemini North di Observatorium Gemini, Hawaii, lautan Pasifik.

http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/mukjizat%20quran/bintang_benam.jpg

Gambar menarik ini menunjukkan runtuhnya bintang dengan awan kosmis sangat besar di inti galaksi Bima Sakti. Para ilmuwan percaya bahwa gambar-gambar ini akan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang akan mengubah pemahaman saat ini tentang pusat galaksi.

Bintang aneh, yang memiliki nama taksonomi ARS 8, menurut para ilmuwan, adalah massa kumpulan gas sampai dekat Gemini Utara. Teknik optikal yang digunakan di dalamnya menunjukkan bahwa gambar ini adalah bintang ambruk di kosmik gas dan awan debu dekat pusat galaksi.

Pengungkapan tentang bintang ini dianggap sebagai keberhasilan besar dalam upaya memahami hakikat inti galaksi melalui pengetahuan ilmuwan tentang bagaimana bintang-bintang dan gas kosmis bergerak relatif, juga studi intensif komponen awan gas, keadaan dan kondisi iklim yang mengelilingi bintang. Hal ini berarti bahwa metode ilmiah baru dalam mencari rincian pada pusat galaksi Bima Sakti akan dikembangkan kemudian.
Pusat galaksi, menurut para ilmuwan, adalah sebuah tempat yang menarik dan aneh, karena mungkin untuk mengamati lingkaran cincin gas kosmik dan bintang-bintang yang berputar dengan cepat di sekitar Black Hole sangat besar oleh ukuran-ukuran kosmis.

Gambar: bintang yang sangat cemerlang bergerak di alam semesta yang luas. Para ilmuwan mengatakan bahwa semua bintang bergerak dengan cepat dan bahwa tidak ada bintang yang tenang, seperti yang terpikir di masa lalu. Allah yang Maha Perkasa menyatakan di dalam Alquran: "Mereka masing-masing mengambang dalam garis edarnya." (Yasin: 40). Sumber: NASA.

Gambar The Brilian Galaxy M101. Para ilmuwan mengatakan bahwa alam semesta memiliki milyaran galaksi yang masing-masing terdiri dari miliaran bintang. Semua bintang berputar dan bergerak, beberapa di antaranya runtuh ke pusat galaksi, beberapa bintang membentur bintang lain, dan ada lebih banyak hal yang tidak ada yang tahu kecuali Allah Ta'ala.

Yang mengejutkan tentang wahyu ini adalah bahwa Alquran telah menunjukkan fakta Stellar Collapse dan bintang rotasi cepat. Allah berfirman:

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS An-Najm [53]: 1-5)

Ayat-ayat ini menyebutkan banyak karakter yang dimiliki semua bintang seperti: bintang runtuh, bintang cepat rotasi, semua bintang kehabisan bahan bakar lalu runtuh dan meledak. Oleh karena itu, kata hawa (runtuh atau jatuh) dalam ayat pertama secara akurat dapat mengekspresikan fenomena ini.

Oleh karena itu, Allah swt, telah bersumpah dengan fenomena ini yang kita menyadari baru-baru ini bahwa Rasul, Muhammad saw, tidak berbicara menurut keinginan sendiri dan bahwa setiap kata yang dikatakan adalah wahyu dari Allah. Seolah-olah Allah Ta'ala ingin berkata kepada setiap orang yang mencurigai kejujuran Muhammad bahwa saat ketika ia menemukan fenomena ini dan observatorium mendeteksi gambar-gambar yang ia tidak akan pernah meragukan antara bintang runtuh.

Selama Anda tidak meragukan fenomena menakjubkan yang ditemukan sekarang, padahal ia tidak diketahui pada saat Al-Quran diturunkan, maka Anda harus menyadari bahwa Al-Qur’an ini bersumber dari Allah Ta'ala.

Akhirnya, kita dapat mengatakan bahwa riset dan studi dapat berfungsi sebagai bukti nyata tentang kejujuran Alquran dan pesan Islam.

http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/abduldaem-al-kaheel-sinyal-alquran-tentang-bintang-runtuh-di-pusat-galaksi.htm

Menurunnya Aktivitas Matahari

Walaupun aktivitas matahari menurun, penelitian baru menunjukkan, mungkin sebenarnya itu justru menyebabkan bumi menjadi lebih hangat.

Aktivitas matahari baru-baru ini mempengaruhi atmosfer bumi dan iklim dengan cara yang tak terduga, demikian menurut sebuah studi baru yang diterbitkan hari ini di jurnal Nature. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari Imperial College London dan Universitas Colorado, menunjukkan bahwa penurunan aktivitas matahari tidak selalu berarti bahwa bumi menjadi lebih dingin.

Juga ditetapkan bahwa aktivitas matahari bertambah dan berkurang melalui siklus 11-tahunan, dan sebagaimana berkurangnya aktivitas matahari, maka jumlah keseluruhan radiasi yang mencapai bumi menjadi menurun. Studi ini mengamati aktivitas matahari selama periode 2004-2007, saat matahari berada di bagian penurunan siklus aktivitas 11 tahunannya.

Walaupun aktivitas matahari menurun selama periode tersebut, penelitian baru menunjukkan, mungkin sebenarnya itu justru menyebabkan bumi menjadi lebih hangat. Bertentangan dengan harapan, jumlah energi yang mencapai bumi pada panjang gelombang yang terlihat, meningkat daripada menurun sebagaimana aktivitas matahari menurun, menyebabkan efek pemanasan.

Menghadapi temuan yang mengejutkan ini, para para peneliti yang melakukan studi percaya itu mungkin bahwa kebalikannya juga benar dan bahwa dalam periode ketika aktivitas matahari meningkat, ini justru cenderung mendinginkan bumi, bukannya manghangati. Hal ini didasarkan pada apa yang sudah diketahui tentang hubungan antara aktivitas matahari dan output energi totalnya.

Secara keseluruhan aktivitas matahari telah meningkat selama abad terakhir, sehingga para peneliti percaya hal tersebut mungkin jika selama periode ini, matahari telah memberikan kontribusi efek pendinginan yang kecil daripada efek pemanasan kecil seperti yang sebelumnya sudah dipikirkan.

Profesor Joanna Haigh, penulis utama penelitian yang adalah Kepala Departemen Fisika dan anggota dari Institut Grantham untuk Perubahan Iklim di Imperial College London, mengatakan: “Hasil ini menantang apa yang kita pikir kita sudah tahu tentang pengaruh matahari pada iklim kita. Namun, mereka hanya menunjukkan kepada kami gambaran aktivitas matahari dan perilakunya selama tiga tahun penelitian kami bisa menjadi anomali.

“Kita tidak bisa melompat pada kesimpulan berdasarkan apa yang kita temukan selama periode yang relatif singkat dan kita perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk menjelajahi aktivitas matahari, dan pola yang telah kami ungkap, pada rentang waktu lebih lama. Bagaimanapun juga, jika penelitian lebih lanjut menemukan pola yang sama selama jangka waktu yang lama, ini bisa menunjukkan bahwa kita mungkin telah menaksir terlalu tinggi peran matahari dalam pemanasan planet, bukannya terlalu rendah.”

Profesor Sir Brian Hoskins, Direktur Institut Grantham untuk Perubahan Iklim di Imperial College London, menambahkan: “Kita tahu bahwa iklim bumi dipengaruhi baik oleh aktivitas manusia maupun kekuatan alam, dan studi saat ini meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana matahari mempengaruhi iklim kita. Studi seperti ini sangat penting membantu kita menciptakan gambaran yang jelas tentang bagaimana iklim kita berubah dan melaluinya, untuk bekerja bagaimana kita dapat melindungi planet kita.”

Para peneliti menggunakan data satelit dan pemodelan komputer untuk menganalisis bagaimana spektrum radiasi dan jumlah energi dari matahari telah berubah sejak tahun 2004. Instrumen pada satelit SORCE telah mengukur output energi matahari pada panjang gelombang yang berbeda. Para peneliti memasukkan data dari SORCE menjadi model komputer yang ada tentang atmosfer bumi dan membandingkan hasil mereka dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan data pada spektrum matahari sebelumnya.

http://www.faktailmiah.com/2010/10/07/menurunnya-aktivitas-matahari-tidak-berarti-bumi-mendingin.html

Tujuh Lapisan Bumi

Ketika para ilmuwan mulai meneliti lembah-lembah di bumi untuk mengenal struktur dan unsur-unsurnya, mereka menemukan mitos dan dongeng yang mendominasi abad-abad terakhir itu tidak memiliki dasar ilmiah. Setelah para ilmuwan menemukan bahwa bumi berbentuk bulat telur, maka mereka menduga bahwa inti bola bumi ini mempunyai suatu nukleus, dan cangkangnya adalah kerak bumi yang sangat tipis jika dibandingkan dengan ukuran bumi. Dan antara dua lapisan ini ada lapisan ketiga yang biasa disebut dengan kata mantel. Ini merupakan pengetahuan awal para ilmuwan.

Perkembangan Fakta-fakta Ilmiah

Teori Tiga Lapisan ini tidak cukup lama bertahan karena penemuan-penemuan yang terbaru di sistem geologi. Pengukuran-Pengukuran dan percobaan-percobaan terbaru menunjukkan bahwa Artikel yang berisi nukleus dari bumi itu berada di bawah tekanan yang sangat tinggi, tiga juta kali lebih dari permukaan bumi.

Di bawah tekanan seperti itu, zat berubah bentuk menjadi solid, dan hal ini pada gilirannya membuat inti bumi itu sangat solid. Inti bumi ini dikelilingi suatu lapisan zat cair dengan suhu yang sangat tinggi. Ini berarti bahwa ada dua lapisan di dalam inti bumi, bukan satu. Satu lapisan di dalam pusat yang dikelilingi lapisan zat cair.

Hal itu diketahui sesudah alat-alat pengukur dikembangkan dan memberi para ilmuwan suatu perbedaan yang jelas antar lapisan-lapisan bumi bagian dalam. Jika kita turun ke bawah bumi yang keras, kita akan menemukan lapisan batu-batu yang sangat panas, yaitu batu yang berfungsi untuk membungkus. Setelah itu ada tiga lapisan terpisah, di mana masing-masing itu berbeda kepadatan, tekanan dan suhu yang berbeda-beda.

Oleh karena itu para ilmuwan mengklasifikasi lapisan-lapisan bumi menjadi tujuh lapisan, tidak lebih. Gambar menunjukkan lapisan-lapisan ini dengan dimensi masing (beberapa di luar skala), sesuai yang ditemukan para ilmuwan baru-baru ini dengan berbagai metode seperti menggunakan alat pengukur gempa bumi dan studi medan magnetik bumi, dan juga teknik-teknik yang lain. Berbagai studi dan penemuan tersebut saat ini diajarkan kepada para mahasiswa fisika di berbagai universitas.

http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/syariah/lapis_bumi.jpg

Gambar ini menunjukkan tujuh lapisan Bumi, memberitahukan bahwa kerak bumi adalah lapisan sangat tipis yang disusul dengan mantel dengan berbeda-beda ketebalannya, lalu disusul lapisan-lapsan yang terdiri zat cair, dan diakhiri dengan yang lapisan ketujuh, yaitu nukleus padat.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa atom terdiri dari tujuh lapisan atau tingkatan, dan hal ini membuktikan keseragaman ciptaan, di mana bumi mempunyai tujuh lapisan dan atom-atom mempunyai tujuh lapisan juga. Subhanallah.

Tujuh lapisan bumi itu sangat berbeda-beda dari segi struktur, kepadatan, suhu dan bahannya. Oleh karena itu, tidak seorang pun menganggap bumi itu hanya mempunyai satu lapisan sebagai orang di masa lampau berpikir. Di sini kita menemukan bahwa pemikiran bahwa bumi mempunyai lapisan-lapisan merupakan berkara baru dan tidak dikenal atau yang dikemukakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan. Penemuan-penemuan ini dikemukakan para ilmuwan abad 21 kepada kita, tetapi sejak dahulu Kitab Allah telah memberitahu kita tentang hal tersebut.

Informasi di dalam al-Qur’an al-Karim

Al-Qur’an al-Karim, perkataan Tuhan, menuturkan kepada kita tentang tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan bumi di dalam dua ayat berikut:

‘Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?’ (al-Mulk: 3)

Allah juga berfirman, ‘Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.’ (ath-Thalaq: 12) Ayat pertama bericara kepada kedua tentang dua sifat langit: bilangan langit itu, yaitu tujuh, dan bentuk langit, yaitu berlapis-lapis. Inilah arti kata thibaqan yang kita temukan di dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an dan kamus-kamus bahasa Arab. Sedangkan ayat kedua menegaskan bahwa bumi itu menyerupai langit, dan hal itu diungkapkan dengan kalimat, ‘Dan seperti itu pula bumi.’ Sebagaimana langit itu berlapis-lapis, maka begitu pula bumi, dan masing-masing jumlahnya tujuh lapisan.

Informasi dalam Sunnah

Seandainya kita meneliti hadits-hadits Rasulullah saw, maka kita menemukan sebuah hadits yang menegaskan keberadaan tujuh lapis bumi, maksudnya tujuh lapis yang sebagiannya membungkus sebagian yang lain. Nabi saw bersabda, ‘Barangsiapa yang menyerobot sejengkal tanah, maka Allah akan menimbunnya dengan tujuh lapis bumi.’ (HR Bukhari) Kata menimbun di sini diungkapkan dengan kata thawwaqa yang secara bahasa berarti meliputinya dari semua sisi.

Pertanyaannya di sini adalah: Bukankah hal ini merupakan mukjizat Nabawi yang besar? Bukankah hadits yang mulia ini telah menentukan bilangan lapisan bumi, yaitu tujuh, dan menentukan bentuk lapisan itu, yaitu meliputi dan menyelubungi. Bahkan hadits ini memuat sinyal tentang bentuk bulat atau semi-bulat. Al-Qur'an dan Sunnah telah mendahului ilmu pengetahuan modern dalam mengungkapkan fakta yang ilmiah ini. Selain itu, al-Qur'an juga telah memberi kita penelasan yang tepat mengenai struktur bumi dengan menggunakan kata thibaqan.

http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/tujuh-lapisan-bumi.htm