Pernahkah kita berpikir bahwa kita ada dari ketiadaan...???
Pesan dibawah ini akan menceritakan Semua Tentang Kita (Manusia).
Selamat Menyimak...!!!
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Pada mulanya ia adalah bukan apa-apa, tidak ada, tidak wujud, dan tidak berbentuk. Kemudian atas Kehendak-Nya, ia diciptakan. Ihwal penciptaan manusia ini menunjukkan kemaha kuasaan Allah. Hal ini harus menjadi renungan manusia, betapa tanpa kekuasaan-Nya, manusia bukanlah apa-apa.
Allah berfirman :
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.”(QS. 76:1)
"Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu sedang ia tidak ada sama sekali.” ( QS. 19:6)
Kedua ayat diatas dimulai dengan kalimat istifham, yang menuntut perhatian supaya manusia memikirkan diri dan proses kejadiannya, sehingga dengan itu, ia akan berlaku dengan benar dalam kehidupan di dunia ini sesuai dengan "fungsi" dan "tujuan penciptaannya"
PROSES PENCIPTAAN KITA
Dalam proses penciptaan manusia terdapat dua proses, yaitu proses azali dan proses alami.
A. Proses Azali
Proses azali adalah proses penciptaan manusia dimana peran ke-Maha Kun Fayakun-an Allah terjadi tidak ada sedikit pun campur tangan manusia. Seperti penciptaan Adam dari tanah liat yang dibentuk. Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Dan Isa Al Masih yang diciptakan tanpa seorang ayah.
Hal tersebut sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al Hijr : 26, An Nisa’ : 1, dan QS. Ali Imron : 59
“ Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. ( QS. 15 : 26 )
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” ( QS. 4 : 1 )
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.” ( QS. 3 : 59 )
B. Proses Alami
Proses alami adalah proses kejadian manusia setelah Adam dan Hawa kecuali Isa as, yaitu harus ada hubungan antara laki-laki dan perempua, bertemunya sel sperma dan telur dalam rahim perempuan. Dalam rahim seorang ibu ia dibentuk melalui beberapa tahapan dan dalam waktu yang telah ditetapkan, kemudian setelah sempurna kejadiannya, ia dilahirkan keatas dunis sebagai seorang bayi, lalu Allah tumbuhkan ia menjadi dewasa dan tua, kemudian Allah wafatkan.
Perhatikan firman Allah SWT dalam QS. Al Mu’minun : 12-16
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”. ( QS. 23 : 12-16 )
BAHAN DAN ISI DASAR PENCIPTAAN KITA
A. Bahan Dasar
Bahan dasar manusia adalah tanah yang tidak berharga, sebagai mana diterangkan dalam QS. As Sajadah :7-8
“Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” ( QS. 32 : 7-8 )
Seorang manusia yang gagah perkasa, tampan dan cantik rupawan hanyalah berbahan dasar tanah liat yang merupakan bahan terendah dan kurang berharga. Bila manusia mau memperhatikan asal kejadian ini , maka ia tidak akan pernah menyombongkan diri menentang dan mendurhakai Allah penciptannya.
B. Isi Dasar
Dari bahan dasar yang sangat rendah tersebut, kemudian Allah mengisi dengan sesuatu yang sangat tinggi nilainya yaitu ruh ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. As Sajdah : 9
“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS 32 : 9)
Dengan demikian manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sekali dengan Allah karena manusia diberi ruh ciptaan-Nya.
Dari dua asal yang sangat berbeda tersebut menunjukkan dua hal yang berbeda. Jasad manusia yang diciptakan dari bahan dasar tanah, maka ia memiliki kecenderungan yang kuat pada tanah (duniawi), sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS. Ali imran : 14
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ( QS. 4: 14 )
Sedangkan ruh ( jiwa ) yang berasal dari Allah, maka ia juga memiliki kecenderungan dan kebutuhan kepada petunjuk Allah yaitu Ad Dien, jalan menuju taqwa. Perhatikan firman Allah dalam QS. Ali imran : 15
“Katakanlah: "Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” ( QS. 4: 15 )
POTENSI DASAR KITA
Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atanya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) maupun potensi eksternal (potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk menjalankan tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu ia harus diolah dan didayagunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna.
A. Potensi internal
Potensi internal adalah potensi yang menyatu dalam diri manusia sendiri. Potensi ini terdiri dari:
1. Potensi Fitriyah
Manusia diberikan Allah potensi fitriyah. Makna fitri adalah Al-Islam, sebagaimana dijelaskan dalam ayat dan hadist berikut ini. Perhatikan firman Allah dalam QS. Ar Ruum : 30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. 30:30 )
Berkenaan dengan ayat tersebut Rasulullah bersabda :
“ Dari Abu Hurairah ra. Bersabda Rasulullah SAW., “ Tiada bayi yang dilahirakan kecuali lahir dalam keadaan fitrah. Maka ayah bundanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana lahirnya binatang yang lengkap sempurna. Apakah ada binatang yang lahir terputus telinganya? Kemudian Abu Hurairah membaca, “ Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus.” ( HR. Mutafaqun ‘Alaih )
Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi lantaran Dienullah. Kalau ia gunakan potensi ini, ia akan senantias berjalan diatas jalan yang lurus, karena Allah membimbingnya semenjak dalam ruh (kandungan). Perhatikana firman Allah dalam QS. Al A’raf : 172
“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", ( QS. 7 : 172)
2. Potensi Qolbiyah
Potensi qolbiyah adalah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang haq dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan.
Allah berfirman dalam QS. Asy Syam : 7-8
“ Dan jiwa serta penyempurnaanya (citaanya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.” ( Qs. 91 : 7-8)
Didalam hati setiap manusi telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (keselahan). Dari kemampuan ini Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Wabishah bin Ma’bab berkata : “saya datang kepada Nabi SAW untuk bertanya tentang bakti ( al-birri). Maka sebelum saya bertanya Nabi bertanya, “ kau datang untuk bertanya tentang bakti? Jawabku : ya. Bersabda Nabi SAW, “tanyakan pada hatimu. Bakti itu adalah pernuatan yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan jiwa. Sedangkan dosa itu adalah perbuatan yang menimbulkan keraguan dalam hati dan jiwa. Meskipun telah mendapat fatwa dari orang.”
Hadist tersebut menunjukkan bahwa potensi ruhiyah inilah yang menentukan arah kehidupoan manusia.
Anda masih ingat detik-detik ketika kakek, atau nenek, atau mungkin ayah, ibunda, atau mungkin juga istri atau suami tercinta meregang nyawanya? Pernahkah anda bertanya dan berpikir apakah yang mereka rasakan ketika ruh mereka meninggalkan raganya?
Agar anda dapat menerka apa yang mereka rasakan kala itu, coba anda kembali mengingat raut wajah mereka ketika detik-detik terakhir sebelum meninggal dunia.
Tahukah!, apa yang dialami oleh ayahanda atau kerabat anda saat itu? Tahukah saudara, dengan siapa ia berhadapan? Berikut inilah kejadian yang dialami oleh ayahanda atau ibunda atau kerabat anda kala itu (Kisah ini dituturkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Ibnu Majah):
Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga.
Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk di dekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: "Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah." Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya.
Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membukusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga.
Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu harum." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: "Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."
Walau demikian mudah arwah orang mukmin keluar dari raganya, akan tetapi bukan berarti bebas dari rasa sakit! Sekali-kali tidak.
Adakah keraguan pada diri anda bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang mukmin yang paling sempurna keimanannya? Akan tetapi kemulian dan kesempurnaan iman beliau tidak dapat melindungi beliau dari rasa pedihnya sakaratul maut. Oleh karena itu, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda:
"Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih." (Riwayat Imam Bukhari)
Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab radhiallahu 'anhu bertanya kepada Ka'ab Al Ahbaar:
"Wahai Ka'ab, ceritakan kepada kita tentang kematian" Ka'abpun berkata: "Wahai Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa yang akan tersisa!" (Riwayat Abu Nu'aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya')
Syaddaad bin Al Aus berkata: "Kematian adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk. Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur nyenyak."
Bila demikian dahsyatnya rasa sakti yang menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka bagaimana dengan diri anda? Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang menodai lembaran amal anda? Anda ingin tahu bagaimana rasanya sakaratul maut bila anda tidak segera bertaubat dari kemaksiatan dan beristiqamah dalam ketaatan? Simaklah kelanjutan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah di atas:
Bila orang kafir, pada riwayat lain: Bila orang jahat hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Mereka berwajah hitam kelam, membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang.
Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk di dekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: "Wahai jiwa yang buruk, bergegas engkau keluarlah dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah." Segera ruh orang jahat itu menyebar ke seluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan keras, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya.
Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya. Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membungkusnya dengan kain kasar yang mereka bawa. Dari kain itu tercium aroma busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia.
Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu buruk." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: "Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."
Coba anda ingat kembali, rasa pedih dan sakit yang pernah anda rasakan ketika tertusuk atau tersengat api! Sangat menyakitkan bukan? Padahal syaraf yang merasakan rasa sakit hanyalah sebagiannya. Walau demikian, rasanya begitu menyakitkan, sehingga susah untuk dilupakan?!
Nah, bagaimana halnya bila kelak pada saat sakaratul maut seluruh syaraf anda merasakan sakit. Di saat ruh anda berusaha berpegangan erat-erat dengan setiap syaraf anda, sedangkan Malaikat Maut mencabutnya dengan keras dan kuat. Betul-betul menyakitkan.
Penampilan Rasa Malaikat Maut yang begitu seram dan menakutkan akan semakin menambah pedih rasa sakit yang anda rasakan.
Siapkah anda menjalani pengalaman yang begitu menakutkan dan begitu menyakitkan?
Bila saudara tidak kuasa menjalani sakaratul maut yang sangat menyakitkan seperti ini, maka mengapa noda-noda maksiat terus mengotori lembaran amal dan menghitamkan hati anda? Mengapa kaki anda terasa kaku, tangan serasa terbelenggu, mata seakan melekat dan pintu hati seakan terkunci ketika ada seruan beribadah kepada Allah?
Saudaraku! Agar hati anda kembali menjadi lunak dan pintu hati anda terbuka lebar-lebar untuk menerima dan mengamalkan kebenaran, maka alangkah baiknya bila anda sering-sering berziarah ke kuburan. Dengan berziarah ke kuburan, diharapkan anda akan senantiasa menyadari, cepat atau lambat anda pasti menjadi salah seorang dari penghuni kuburan.
"Berziarahlah ke kuburan, karena ziarah ke kuburan itu dapat mengingatkan kalian akan kematian." (Riwayat Muslim)
Ada satu pertanyaan yang tidak mungkin anda temukan jawabannya sebelum anda mengalaminya sendiri: Termasuk golongan manakah diri anda, apakah termasuk golongan orang-orang mukmin yang dimudahkan ketika menghadapi sakaratul maut ataukah termasuk golongan yang kedua?
Karenanya, marilah kita berjuang, dan berdoa memohon kepada Allah agar diri kita –dengan rahmat dan kemurahan Allah- dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan keteguhan dan kemudahan ketika menghadapi Malaikat Maut. Amiin.
Wahai Kalian Para "Budak" .....!!!
Wahai Kalian para "Budak".......!!!
tidak malukah kalian dgn status kalian sebagai "budak" .......
"budak" yg harus mengabdi kepada sang "MAJIKAN"......
tidakkah kalian malu bahwa apa yg ada dlm hidup kalian itu semua milik sang "MAJIKAN" kalian,
kalian hnylah budak yg harus menuruti aturan2 sang "MAJIKAN" kalian,
malu lah kalian.....
karena kalian telah di berikan tempat bermukim di dunia ini secara gratis....
malu lah kalian.......
karena kalian telah diberikan fasilitas utk hidup di dunia ini secara gratis......
malu lah kalian ..........
bahwa nafas yg telah kalian hirup sejak kalian lahir sampai sekarang ini, itu semua gratis di berikan oleh DIA,
Tapi....
terkadang kalian tidak tau malu........
sudah diberikan segala sesuatu yg semuanya serba gratis oleh DIA,
tapi kalian malah medustai DIA,
melanggar Aturan2 yg telah dibuat oleh DIA
menghianati DIA,
membohongi DIA,
dan bahkan sampai tak mengakui DIA......
DIA itu telah bilang kepada kita semua manusia yg ada di dunia ini....
bahwa......
"Dan tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia kecuali tuk mengabdi kepada Ku" (Adz-Dzaariyaat : 56)
kita semua adalah "budak" yg tinggal di tempat DIA,
dan DIA pun mempunyai aturan2 yg berlaku di tempatnya,
kita hanyalah seorang "budak" yg harus taat pada Aturan yg telah dibuat-Nya,
dan setiap aturan itu wajib kita taati sepenuhnya.
marilah kita sadar diri....
sadar dgn status kita.....
status kita yg hny seorang "budak".....
ikutilah segala aturan-Nya....
taati segala perintah-Nya.......
Tempat yg kita singgahi sekarang ini bukan milik kita, tapi milik DIA,
DIA punya aturan di dalamnya yg harus kita patuhi,
jika kita tdk mau mentaati aturan-Nya, aturan siapa lagi yg harus kita taati..???
sekarang jika kita tetap tak mau mentaati aturan2-Nya utk hidup di muka bumi ini.....
maka.....
pergilah dari bumi-Nya dan cari tempat yg bukan milik-Nya.......
MAKSUD DAN TUJUAN HIDUP.
Setiap orang, sekali waktu dalam kehidupan ini, pasti pernah mempertanyakan dalam dirinya tentang dari mana ia berasal, akan kemana, dan apa tujuan sebenarnya dari kehidupan ini. Oleh sebab itu satu-satunya cara adalah mengubah pola pikir manusia itu sendiri dengan memberikan penjelasan tentang pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan (di dunia dan akhirat). Penjelasan ini hanya di dapat didalam Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
Pada saat Allah menciptakan manusia, Ia tidak pernah meminta pendapat kita, apa perlu penciptaan itu atau tidak. Artinya Allah Maha Berkehendak. Dia telah memiliki tujuan yang mutlak berkenaan dengan penciptaan manusia.
Jadi, sekiranya kita yang dilahirkan ke bumi ini mencari dan menciptakan tujuan hidup sendiri, berarti kita telah mengkhianati Allah yang menciptakan kita. Tujuan hidup yang harus dicapai manusia adalah tujuan yang telah ditetapkan Allah. Ada nggak manusia yang usul agar dirinya diciptakan Allah karena ia mempunyai cita-cita yang hendak dicapainya di dunia ini ? tidak ada. Dua pokok masalah yang penting yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan ‘Tujuan”?
2. Apakah “Kehidupan”?
TUJUAN adalah sesuatu yang ingin dicapai manusia sesuai dengan fitrah dan keinginan-keinginan manusia.
Sedangkan KEHIDUPAN menurut pandangan Al-Qur’an :
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia) kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs.18/45 dan 10/24).
Dari ayat-ayat tersebut diatas seolah-olah Sang Pencipta mengatakan :
“HIDUP ADALAH FENOMENA KEILAHIAN”. Kehidupan dengan aspek alamiahnya tidak bisa membawa umat manusia kepada tujuan ideal hidup di dunia ini. Mengapa demikian? Sebabnya adalah Bahwa kehidupan ini adalah sebagai sarana untuk memasuki tahap kehidupan yang abadi.
“….supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir”. (Qs.36/70). Mereka yang siap untuk menerima pesan para Nabi dan siap pula untuk menggunakan akal dan hati nurani, mereka inilah yang akan hidup bahagia di dunia yang diciptakan Allah ini. Firman Allah :
“Maka hadapkanlah wajah (tujuan hidup)mu dengan hanif kepada Ad-Dien (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu …” (Qs.30/30).
“Dan siapakah yang lebih baik Diennya daripada orang-orang yang ikhlas menyerahkan (tujuan hidup)nya kepada (tujuan) Allah sedang ia mengerjakan kebaikan …. “ (Qs.4/125)
Tujuan hidup manusia adalah memeluk Dien yang hanif dan menyerahkan seluruh tujuan hidupnya kepada tujuan Allah menciptakan manusia. Seluruh hidup manusia harus menyerahkan seluruh kehendaknya kepada kehendak Allah. Itulah yang disebut kehidupan mencari ridho Allah, sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah menciptakan manusia.
“Maka apakah mereka mencari Dien yang lain dari Dien Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan”. (Qs.3/83)
Bagi orang yang beriman tidak punya cita-cita lain dalam kehidupan di dunia kecuali hanya satu yaitu “Ridho Allah”. Kenikmatan hidup yang paling hakiki terletak pada keridhoan Allah dan itu adalah kebahagiaan sejati. Sabda Nabi s.a.w:
“Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah dengan kemurkaan manusia, pasti Allah mencukupi kepadanya daripada keperluan kepada manusia dan barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan kemurkaan Allah pasti Allah serahkan dia kepada manusia”. (HR.Tirmidzi).
Firman Allah SWT :
“Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (Qs.2/207).
Kepuasan hidup bukan terletak pada bentuk dan wujud materi, tetapi kebahagiaan jiwa karena mendapat ridho Allah. Sabda Rasululloh s.a.w. :
“Kaya itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi (hakekat) kaya itu adalah kaya (kepuasan) jiwa hati”. (HR.Bukhari-Muslim)
Tentang Tawakal
Dengan menyebut Asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji hanya bagi Allah, yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkan di atas semua agama walaupun orang musyrik membencinya.
Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,keluarganya,para sahabat,serta kaum muslimin yg selalu sabar, ikhlas serta istiqomah dalam mengikuti risalahnya.
Seseorang yang bermaksud mewakilkan sebuah urusan ataupun persoalannya untuk diselesaikan oleh pihak lain, tentu akan memilih wakil yang tepat serta dapat ia percaya secara penuh. Jika ia tersangkut perkara hukum, maka pihak atau wakil yang tepat untuk ia tunjuk tentunya para advocate atau pengacara. Begitu juga jika seseorang ingin menyelesaikan persoalan yang menyangkut masalah kesehatan dirinya, maka hampir bisa dipastikan ia akan memilih dokter ternama ketimbang berurusan dengan dukun dari kampung bojong nangka.
Akan tetapi, Point terpenting dari sebuah pendelegasian disetiap persoalan apapun adalah; kepercayaan penuh bahwa pihak yang ditunjuk untuk mewakili adalah benar-benar pihak yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang tidak diragukan. Di samping--tentunya--ia juga harus memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi dalam mengatasi persoalan yang memiliki muatan sama sebagaimana persoalan yang sedang dihadapi.
Dalam bahasa agama, fenomena pendelegasian ini dikenal dengan sebutan Tawakkal/tawakul. Ia menjadi salahsatu pesan agama yang cukup penting sehingga sering diulang berkali-kali di berbagai tempat dalam al-Qur’an. “fatawakkal ‘ala Allah” (Maka hendaknya engkau bertawakkal pada Allah). “wa mayyatawakkal ‘ala Allah fahuwa hasbuh” (Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah maka cukuplah hal itu bagi dirinya..) dsb.
Kata tawakkal tercerabut dari kata dasar wakala, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna, wakil, duta, dan mungkin juga bisa berarti ‘asistensi’ sehingga kalimat “tawakkal ‘ala Allah” dalam dua ayat di atas, dapat difahami sebagai;
“Maka, hendaknya hanya kepada Allah saja engkau mewakilkan urusanmu” Dan “Siapapun yang menyerahkan secara penuh urusannya kepada Allah untuk diselesaikan, maka hal itu sudah cukup baginya tanpa perlu mencari wakil yang lain..”
Adakah di dunia ini pihak yang tepat menjadi wakil kita untuk kita serahkan serta percayakan padanya berbagai urusan kita? Adakah pihak atau seseorang yang benar-benar tahu jeritan hati kita yang terdalam? Seseorang yang memahami—layaknya membaca sebuah buku—, setiap rangkaian kata, hingga titik komanya setiap apa-apa yang tertulis dalam fikiran atau yang tercetak di dasar hati kita? Rasanya tidak ada dan pasti tidak akan pernah ada. Oleh karena itu, jika kita menginginkan persoalan hidup dituntaskan secara sempurna, maka wakilkanlah segala persoalan itu kepada Dzat yang juga Maha Sempurna. Allah, adalah Dzat Yang Maha Sempurna, yang selalu membuka pintu-pintu-Nya untuk diketuk oleh hati-hati yang khusyuk penuh cinta…
Pertanyaannya kemudian adalah; di manakah kita harus meletakkan tawakkal? Bukankah dalam hidup kita diwajibkan untuk berusaha (ikhtiar) dan berdoa?. Bukankah kedua instrumen itu yang justru akan sangat mewarnai hasil akhir dari sesuatu yang kita usahakan..?
Benaaar... Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu; Kita memang harus berusaha/berikhtiar dan berdoa untuk setiap sesuatu yang kita inginkan atau sesuatu yang sedang kita hadapi.. Dipenghujung jalan ikhtiar yang dipungkasi doa itu, ternyata ada sebuah pintu lagi yang bisa kita temukan.. Di situlah letaknya tawakkal, Ia bermukim di wilayah kesadaran hati saat kita pasrah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya untuk diselesaikan… Rumah tawakal tak jauh dari halaman belakang doa dikala hati kita secara sadar mengakui kerapuhan diri yang mengantarkan kepasrahan pada ketentuan (takdir) Allah. Apapun yang kita usahakan dan kita pintakan melalui doa, hasil akhirnya kita serahkan IA yang menjadi penentu Takdir kita. Yang menjadi wakil kita dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang mungkin kita rasakan sulit terpecahkan dan yang membuat otak kita terasa buntu…
Sahabat.. setelah sehari kita bekerja, bertarung dan berikhtiar penuh suka cita, maka ambillah sedikit jeda.. sekadar waktu sesaat untuk mengangkat tangan-tangan kita yang lemah, mengetuk pintu-pintu Rahmat-Nya, agar dapat kita sampaikan apa-apa yang menjadi nafas cita kita, yang menjadi kesulitan dan jerit tangis kita, serta apa-apa yang menjadi kerinduan hati kita…
Rabbana ‘alaika tawakkalna, Waa ilaika anabna, Waa ilaika al-mashir
Rabbana atina min ladunka rahmah, Waa hayyik lana min amrina rosyada,
Wallahu a’lam
Mohon maaf bila ada ucapan dalam tulisan di atas yang tak berkenan di hati saudara semua.
Kesempurnaan adalah milik Allah,Kesalahan adalah mutlak karena kebodohan saya.
Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .
HARI INI
Dengan menyebut Asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji hanya bagi Allah, yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkan di atas semua agama walaupun orang musyrik membencinya.
Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,keluarganya,para sahabat,serta kaum muslimin yg selalu sabar, ikhlas serta istiqomah dalam mengikuti risalahnya.
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
dan bulan apabila mengiringinya,
dan siang apabila menampakkannya,
dan malam apabila menutupinya,
dan langit serta pembinaannya,
dan bumi serta penghamparannya,
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
(QS. Asy-Sams : 1-10)
..................
Hari ini,
Sebelum kau memulainya dengan kata-kata kasar yang mungkin akan menciderai hati dan perasaan orang lain, pikirkanlah tentang seseorang yang tak mampu berbicara…
Sebelum kau mengeluhkan rasa makanan yang kau santap, kenanglah mereka yang tak memiliki apapun untuk dimakan..
Hari ini,
Sebelum kau mengeluh tentang “betapa malang dan nestapanya hidupmu.” Ingatlah teman, sahabat, atau kerabat yang terlalu cepat berahir hidupnya…
Sebelum kau mempermasalahkan rumah yang kotor, atau lantai yang berserakan, pikirkan mereka yang tinggal di pinggiran kali, di emperan toko, atau di pinggir jalanan yang berdebu...
Hari ini,
Sebelum kau membanggakan mobil yang kau naiki, Kenanglah orang-orang yang menempuh perjalanan hanya dengan berjalan atau bahkan bertelanjang kaki…
Dan ketika kau lelah lalu mengeluh tentang cobaan yang tiada henti atau pekerjaan yang semakin menumpuk, ingatlah betapa banyak pengangguran, orang-orang cacat, dan mereka yang berharap memiliki pekerjaan seperti dirimu…
Dan hari ini,
Ketika pikiran-pikiran buruk datang melintas membuatmu lemah dan kehilangan semangat, mulailah mengukir senyum dan bersyukur pada Tuhan bahwa kau masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup..
Kehidupan adalah suatu anugerah..
Jalani hidup..
Nikmati Hidup..
Syukuri Hidup…
Dan penuhi janjimu dalam hidup…
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dunia ini tidak cukup untuk memuaskan keserakahan seorang manusia
Mungkin Anda belum pernah mendengar nama Nidzam al-Mahmudi. Karena ia memang tidaklah terkenal. Lelaki paruh baya ini tinggal di sebuah kampung terpencil bersama Istri dan anak-anaknya dalam sebuah rumah sederhana. Keluarga Nidzam memang menerapkan pola hidup sederhana. Namun demikian semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, mungkin tidak ada yang tahu jika ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara bijaksana ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para buruh dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.
Suatu hari, salah seorang anaknya bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?"
Nidzam menjawab "Anakku.. ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil, Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia hanya mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."
Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya,
"Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih besar. Dan yang ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah engkau dan saudara-saudaramu semuanya berumah tangga. Jika Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?"
Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Betapa banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.
Kemudia anak itu lebih terkesima tatkala sang ayah meneruskan,
"Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma dan fakir miskin bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan keserakahan seorang manusia saja."
Ketika pesta perkawinan itu sudah siap menerima sepasang pengantin… Ketika bunga hiasan dan renda-renda penutup meja terpasang sudah dengan santapan rapi dan terlihat indah, tiba-tiba datang berita duka bahwa pengantin pria mengalami kecelakaan di jalan tol dan meninggal karena mobilnya dihempas truk tatkala konvoi pengantin ini bergerak menuju rumah pesta…
Lalu apa yg akan terjadi dalam pesta kebun perkawinan itu..???
Inilah pertanyaan Jean Paul Sartre, ketika ia berusaha memaparkan kenyataan sejati manusia yg disebut sebagai situasi hampa..
Coba bayangkan, Apa yang bisa dilakukan manusia ketika badai kedukaan datang menerpa padahal saat itu, ia sedang berada di puncak kebahagiaan dalam hidupnya…
Sungguh bisa difahami kalau kebanyakan dari kita belum siap menerima kenyataan sepahit ini, bahkan dalam waktu sekejap saja orang bisa gila manakala jagad akal sehatnya tidak kuat bertahan. Seluruh tatanan konstruksi duniawi yg dibangun oleh tukang hias kembang pengantin, oleh penyiap makanan atau oleh panitia pesta, seolah runtuh terbongkar dari dasar dengan sebuah kenyataan sejati, berita duka yg bernama “kematian”
Semua seolah menjadi tak berharga lagi, seperti misalnya rangkaian bunga hias di meja pesta setelah berita kematian itu, menjadi sama dengan bunga yg telah dicampakkan ke dalam tong sampah.
Kita memang akan menemukan kehampaan diri manakala sedang diterjang oleh badai kehidupan seperti ini, atau semacam ketidakpastian masa depan, kekacauan nasib yang datang silih berganti tanpa menyisakan ruang hening pada kita untuk sejenak dapat menghela nafas. Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah sesi tanya jawab disebuah acara pesantren kilat remaja, sayamencoba menggugah mereka dengan sebuah pertanyaan kecil:
"Mengapa kita butuh Tuhan? Mengapa kita butuh agama? Bukankah manusia dengan akal sehat dan teknologi yang dimilikinya mampu merekayasa kehidupan, mampu mencapai tempat-tempat yang jauh di angkasa? Bukankah kini manusia mampu mengendalikan cuaca? dan seterusnya dan seterusnya "
Beragam jawaban pun bermunculan dari mereka.. Dan tidak ada yang salah dari jawaban-jawaban itu.. hanya saja saya menyodorkan sebuah kesejatian bahwa; Hidup ini memang langka dan tidak pasti... Hidup menjadi langka karena kenyataan sering kali berjalan secara tidak sesuai dengan cita-cita dan harapan... Dan hidup juga menjadi tidak pasti karena hari esok masih merupakan misteri bagi kita...
Kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi hari esok.. Apa yang telah kita bangun dan usahakan hari ini dengan setitik harapan bahwa esok kita menuai sesuatu dari usaha kita sebagaimana yang kita inginkan, namun ternyata yang kita dapati berbalik arah melawan kehendak kita... Kenyataan tidak sesuai dan bertolak belakang dengan harapan..
Dan dalam kondisi demikian, barulah kita menyadari kesejatian diri ini dihadapan kekuatan alam dan otoritas Tuhan.. Sadar bahwa hakikat diri ini hanyalah setitik debu yg berterbangan di hamparan gurun pasir yang maha luas.. Kesadaran itulah yang memberi kita nafas kearifan dan mengakui bahwa sebagai manusia biasa kita hanya memiliki otoritas yang sangat terbatas, kecil, dan nyaris tak berarti…
Pada titik inilah kita membutuhkan kehadiran Tuhan untuk menguatkan hati-hati kita yang lemah dan menggantungkan segala sesuatu atas kehendak-Nya. Dan pada saat yang sama, kita membutuhkan Agama karena agama mengajarkan bagaimana kita bersabar, tawakkal, dan yang terpenting.. Agama mengajarkan pada kita bagaimana menemui Tuhan dan menangis di kaki-Nya...
Tips menjaga Iman
Dengan menyebut Asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji hanya bagi Allah, yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkan di atas semua agama walaupun orang musyrik membencinya.
Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,keluarganya,para sahabat,serta kaum muslimin yg selalu sabar, ikhlas serta istiqomah dalam mengikuti risalahnya.
Iman itu ibarat harta jika kita tidak menjaganya dengan baik maka ia bisa hilang.
Jika iman naik turun sehari-hari itu biasa, asalkan, sebagaimana dicontohkan para sahabat, secara garis besar grafiknya menaik sampai puncaknya saat nyawa kita diambil kembali oleh Pemiliknya.
Artinya turun sedikit karena tidak disengaja ya apa boleh buat, istighfarlah karena pintu taubat Allah sangat luas. Namun sesudah itu, ‘ibadah dan ‘amal shalih harus dipacu dengan perbaikan yang melesatkan iman lebih tinggi dari sebelumnya.
Berikut ini sejumlah tips praktis harian untuk memelihara grafik besar iman untuk terus meningkat.
1. Kata terakhir dan kata pertama.
Pastikan bahwa ‘Allah’ adalah kata terakhir yang terucap sebelum Anda terlelap, begitu juga kata yang pertama terucap saat Anda terbangun. Mudah-mudahan cara ini akan mendorong Anda untuk mengisi waktu diantara kedua saat itu dengan sebanyak mungkin mengingat Dia.
2. Bangun malam hari.
Hal pertama berwudhulah, dan shalatlah dimalam hari sendirian. ‘Umar ibn Kahattab (semoga Allah meridhainya) selalu minta disediakan secawan air di sebelah tempatnya tidur. Begitu terbangun, tangannya dibasahinya dan diusapkannya ke wajahnya, untuk langsung bangkit berwudhu dan shalat.
3. Bukalah Al-Qur’an di tengah malam.
Bacalah pelan-pelan di malah hari sendirian, baca terjemahannya, resapi maknanya karena itu disampaikan Allah khusus untuk Anda.
4. Bangunkan orang lain.
Sebelum subuh bangunkan anggota keluarga Anda yang lain dengan lemah lembut untuk melakukan hal yang sama dengan anda.
5. Shalat subuh berjama’ah.
Bagi laki-laki shalat subuh di masjid hampir-hampir wajib. Sampai Rasulullah berkata, untuk orang munafiq, shalat berjama’ah di masjid yang paling berat adalah ‘isya dan subuh. Ada saja alasan untuk menghindarinya. Bagi perempuan, shalat berjamaah di rumah pun baik.
6. Bacakan ayat dan hadits.
Pilihkan satu ayat Al-Qur’an dan satu hadits Rasulullah kepada orang-orang di rumah Anda sebagai hadiah pertama di pagi hari. Jadikan ayat dan hadits itu bahan obrolan pertama Anda sebelum berbincang tentang hal lain.
7. Baca sirah nabi.
Usahakan membaca satu atau dua halaman sirah Rasulullah di pagi hari untuk menambah kecintaan dan keshiddiqan kita kepada Muhammad Nabiyullah yang namanya kita sebut dalam syahadat keIslaman kita.
8. Sebelum keluar rumah.
Jangan lewati pintu rumah untuk berangkat bekerja atau menuntut ilmu urusan lainnya, sebelum tawakkal kita hanya kepada Allah dalam segala urusan. Ucapkan Bismillahittawakkaltu ‘ala Allahi Laa Hawla wa laa quwwata illaa billahi.. Dengan nama Allah aku bertawakkal (menggantungkan semua urusanku) hanya kepada Allah, tidak ada kemampuan dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
9. Mendengar Al-Qur’an.
Usahakan tetap mendengar lantunan bacaan Al-Quran kemanapun Anda pergi hari ini, baik dari alat elektronik yang bisa Anda setel, atau dari senandung Anda sendiri dari hafalan maupun bacaan Anda.
10. 24 jam doa.
Ucapkanlah berbagai macam doa sehari-hari (mulai dari masuk kamar kecil sampai doa berkendaraan) yang diajarkan Rasulullah, dengan niat dan tujuan menambah rasa ketergantungan kita hanya kepada Allah. Semakin kita tergantung hanya kepada Allah dalam segala urusan, semakin independen kita dari pengaruh manusia lain, siapaun dia, setinggi apapun jabatannya terhadap kita, sebanyak apapun hartanya dibandingkan dengan diri kita. Begitu Allah melihat bukti bahwa kita hanya bergantung kepada-Nya, PASTI Dia akan mengangkat derajat kita di hadapan manusia lain, dan memudahkan semua urusan kita.
11. Kegiatan utamaku shalat
Aturlah agenda harian Anda berdasarkan rotasi 5 waktu shalat. Rancanglah semua agenda kerja dan kegiatan sedemikian rupa, yang membuat Anda sudah berada di tempat menunaikan shalat dalam keadaan berwudhu minimal 15 menit sebelum adzan berkumandang. Rasakan berkah demi berkah akan dilimpahkan kepada Anda.
12. Wudhu sempurna.
Peliharalah wudhu Anda selama mungkin. Berwudhulah dengan sempurna. Perhatikanlah air yang mentes dari kulit wajah dan bagian-bagian tubuh Anda, saksikan dosa-dosa Anda bercucuran bersama air itu.
13. Shalat terakhir.
Laksanakan shalat seakan-akan itu shalat Anda yang terakhir. Hadapkan tubuh Anda lurus-lurus ke arah Ka’bah Baitullah. Tundukkan jiwa Anda di hadapan Allah Pencipta dan Pemelihara Hidup Anda. Ejalah satu demi satu bacaan shalat dengan kerendahan hati dan kehinaan diri di hadapan Allah.
14. Berpuasa.
Lakukan puasa sunnah sebanyak mungkin, karena orang yang berpuasa doanya langsung dikabulkan Allah. Sedangkan doa adalah senjata utama Mu’min.
15. Berinfaq dan bershadaqah.
Apapun bentuk harta yang Anda miliki, itu sepenuhnya hak Allah. Gunakan harta itu sesuai kehendak pemiliknya yang sejati. Perbanyak shadaqah dan berinfaq untuk menunjukkan kepada Allah, bahwa harta yang ada pada kita sama sekali tidak mengganggu kesadaran kita, “bahwa ini semua milik Engkau ya Allah.”
16. Bersahabat.
Bergaul dan bersahabatlah sebanyak dan sesering mungkin dengan sesama orang yang meiliki iman. Dahulukan iman, ibadah, ilmu dan amal shalih sebagai kriteria kita memilih atau tidak memilihnya menjadi teman apalagi sahabat karib. Bila bergaul dengan orang yang masih lemah iman, atau bahkan kafir, pasanglah niat yang kuat, bahwa Anda bergaul dengannya dengan tujuan membagi kelezatan iman yang sudah kita rasakan. Kalau ditawari yang lezat-lezat dia menolak, ya tak usah buang-buang waktu menjadi temannya. Karena kata Nabi, di akhirat kita akan hidup bersama dengan teman kita sesama hidup. Wallahu a’lam bishshawwab.
Mohon maaf bila ada ucapan dalam tulisan di atas yang tak berkenan di hati saudara semua.
Kesempurnaan adalah milik Allah,Kesalahan adalah mutlak karena kebodohan saya.
Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .
10 Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk Surga
Dengan menyebut Asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji hanya bagi Allah, yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkan di atas semua agama walaupun orang musyrik membencinya.
Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,keluarganya,para sahabat,serta kaum muslimin yg selalu sabar, ikhlas serta istiqomah dalam mengikuti risalahnya.
Setiap orang pasti ingin masuk surga. Namun, tidak mudah untuk meraihnya. Tak cukup hanya mengaku sebagai Muslim, butuh ketaatan dan pengorbanan
Hidayatullah.com--Lihatlah bagaimana sikap itu ditunjukkan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Tidak hanya harta, jiwa dan raga pun rela mereka persembahkan untuk kejayaan Islam.
Dari sekian banyak sahabat Nabi, ada sepuluh sahabat yang memperoleh jaminan surga (Asratul Kiraam).
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ’anhu (RA) adalah khalifah pertama, setelah Nabi wafat. Ia sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah, kemanapun Nabi pergi, ia selalu menyertainya. Termasuk saat Rasul dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah, suatu perjalanan yang penuh dengan risiko.
Sejak remaja, Abu Bakar telah bersahabat dengan Nabi. Ia juga orang pertama yang memeluk Islam. Tidaklah sulit baginya untuk mempercayai ajaran Islam, karena tahu betul keagungan akhlak Rasulullah.
Demikian juga saat Nabi menyampaikan peristiwa Isra Mi’raj. Abu Bakarlah sahabat yang pertama kali membenarkan peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, ia diberi gelar oleh Rasulullah yakni Ash-Shiddiq (yang benar, jujur, dan membenarkan).
Abu Bakar wafat dalam usia 63 tahun (13 Hijriah). Ia dikebumikan di Madinah bersebelahan dengan makam Rasulullah. Ia diriwayatkan 142 Hadits.
2. ‘Umar bin Khattab
‘Umar bin Khaththab RA adalah khalifah kedua. Ia termasuk sahabat yang sangat dikasihi oleh Nabi. Sebelum masuk Islam, ia dikenal sebagai sosok yang jago gulat dan gemar mabuk-mabukan. Seluruh penduduk Makkah merasa takut kepadanya.
’Umar memeluk Islam setelah mendengar surat Thoha yang dibacakan saudara perempuannya. Ia sangat keras dalam membela agama Allah. Ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraisy terhadap diri Nabi dan sahabat.
Saat ’Umar diangkat menjadi khalifah, daerah kekuasaan Islam bertambah. Kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukan dalam kurun waktu satu tahun (636-637 M). Pemimpin yang sederhana dan peduli para rakyatnya ini, wafat setelah dibunuh Abu Lukluk saat hendak memimpin shalat ( 23 H/644 M). Ia dimakamkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah.
3. ‘Utsman bin Affan
‘Utsman bin Affan RA adalah khalifah Islam ketiga. Pada saat kepemimpinannya, ia berhasil mengumpulkan wahyu, dan menyusunnya dalam bentuk mushaf Al- Qur’an.
’Utsman masuk Islam lewat ajakan Abu Bakar As-Siddiq. Ia mendapat gelar Dzun Nur ’Ain (Pemilik Dua Cahaya), karena menikahi dua putri Nabi, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
’Utsman dikenal sebagai saudagar kaya dan dermawan. Ia selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah. Saat berkecamuk perang Tabuk, ’Utsman menyumbang lebih dari 940 unta, kemudian membawa 60 kuda untuk menggenapinya menjadi 1000. Usman Wafat pada tahun 35H atau 655M.
4. ‘Ali bin Abi Thalib
‘Ali bin Abi Thalib RA dilahirkan di Makkah tahun 598 Masehi. Suami dari putri Nabi, Fatimah, ini merupakan orang yang pertama masuk Islam dari golongan anak-anak. Sebagian meriwayatkan saat itu usianya 10 tahun.
’Ali terkenal orang yang sangat berani, ahli siasat perang, dan cerdas. Pada saat peristiwa hijrah, ’Ali tidur di atas tempat tidur Rasulullah. Sehingga, para tentara Quraisy yang mengepung rumah Nabi, mengira Nabi masih berada di dalam rumah.
’Ali wafat pada tahun 40 Hijriyah, setelah ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam dengan pedang yang beracun setelah shalat Shubuh. Ia meninggal dalam usia 63 tahun dan menjabat sebagai khalifah selama 4 tahun 9 bulan. Beliau dimakamkan di Kufah, Irak.
5. Thalhah bin Abdullah
Thalhah bin ’Abdullah dikenal sebagai salah satu konsultan Rasulullah. Ia berasal dari suku Quraisy.
Saat berkecamuk perang Uhud, Thalhah ikut serta. Di arena tersebut ia menderita luka parah. Dia menjadikan dirinya sebuah perisai bagi Rasulullah dan mengalihkan panah yang akan menancap diri Nabi dengan tangannya. Sehingga semua jari-jarinya putus.
Thalhah wafat pada 36 H atau 656 M. Ia Syahid saat mengikuti perang Jamal.
6. Zubair bin Awwam
Zubair bin Awwan termasuk golongan yang pertama masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Usianya saat itu baru 15 tahun.
Pembelaannya terhadap Islam begitu nyata, Zubair tidak pernah absen dalam berbagai petempuran bersama kaum muslimin. Ia selalu berada di garda depan saat jihad dikumandangkan. Sekujur tubuhnya terdapat luka dari hasil peperangan.
Ia sangat dicintai Rasulullah. Saat terjadi perseturuan di antara kaum muslimin, Zubair tidak sedikit pun memihak yang berseteru. Ia malah berusaha menyatukannya.
Zubair ditikam ketika sedang menghadap Allah, ia wafat pada tahun 36H atau 656M.
7. Sa’ad bin Abi Waqqas
Sa’ad bin Abi Waqqas memeluk Islam saat berusia 17 tahun. Ia sangat mahir menunggang kuda dan memanah. Jika ia memanah musuh dalam sebuah peperangan pastilah tepat sasaran. Hampir seluruh peperangan ia ikuti.
Saat awal memeluk Islam, ibunya mengancam mogok makan dan minum. Dengan harapan, Sa’ad kembali ke ajaran nenek moyang. Namun, hampir sang ibu menemui ajal, ancaman itu dihiraukannya. Ia tidak menjual keyakinannya dengan apa pun, nyawa ibunya sekalipun.
Saat periode Khalifah Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat sebagai gubernur militer di Iraq yang bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai panglima tentara.
Sa’ad wafat pada usia 70 tahun (55H atau 675M). Ia dimakamkan ditanah Baqi’
8. Sa’id bin Zaid
Sa’id adalah di antara sahabat yang beruntung. Dia masuk Islam bersama-sama istrinya, Fathimah binti Al-Khaththab, adik perempuan ‘Umar bin Khaththab. Sa’id membaktikan segenap daya dan tenaganya untuk berkhidmat kepada Islam. Ketika memeluk Islam usianya belum genap 20 tahun.
Sa’id turut berperang bersama Rasulullah dalam setiap peperangan. Ia juga turut bersama kaum muslimin mencabut singgasana Kisra Persia. Sa’id pernah diperintahkan Rasulullah untuk memata-matai aktivitas musuh.
Ia wafat dalam usia 70 tahun (51H atau 671M), dan dimakamkan di Baqi’, Madinah.
9. ‘Abdurrahman bin ‘Auf
’
Abdurrahman bin ’Auf juga termasuk tujuh orang yang pertama masuk Islam. Ia di antara sahabat Rasul yang memiliki harta berlimpah. Selurah hartanya itu ia peroleh melalui perniagaan.
Kesuksesannya tidak membuat ia lupa diri. Ia selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah. Bahkan saat ia diberitakan Rasulullah bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat bersedekahnya semakin membara. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang, dan 1.500 ekor unta ia sumbangkan untuk perjuangan menegakkan Islam.
Abdurrahman sempat berhijrah ke Habasyah sebanyak dua kali. Ia wafat pada umur 72 tahun (32H/652M) dan dimakamkan di baqi’.
10.Abu ‘Ubaidah bin Jarrah
Rasulullah pernah memberikan pernyataan tentang Abu ‘Ubaidah. “Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah,” begitu kata Rasulullah. Abu Ubaidah orang yang amanah dan jujur dalam berperilaku.
Abu Ubaidah masuk Islam melalui perantara Abu Bakar As-Shiddiq diawal kerasulan Muhammad. Ia beberapa kali dipercaya Rasul memimpin peperangan. Ia wafat pada tahun 18H atau 639M. [Ibnu Syafa’at/SAHID/www.hidayatullah.com]
Mohon maaf bila ada ucapan dalam tulisan di atas yang tak berkenan di hati saudara semua.
Kesempurnaan adalah milik Allah,Kesalahan adalah mutlak karena kebodohan saya.
Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .